Kamis, 17 Desember 2020

Permata Yang Hilang

 

Permata Yang Hilang

Oleh : Izzul Mutho’

“Run, Ibu minta tolong anterin bingkisan ini ke Rana ya. Kebetulan Ibu sama Bapak ingin pergi sebentar, jadi belum bisa kesana lagi”, kata Ibuku sambil menyerahkan bingkisan.

“Iya, bu. Rana pasti senang dapat bingkisan dari calon ibu mertua, hehe”, sahutku.

“Bisa aja kamu, Run. Kamu pasti yang senang mau ketemu Rana”, jawab Ibuku.

“Iya, hehe”, jawabku.

Ya, seperti itulah Aku dan Ibuku suka bercanda kecil. Keluargaku hidup didesa, dengan kehidupan yang sederhana dan berkecukupan. Namun, bukan berarti tidak bahagia. Rana adalah teman SMA-ku dulu, meskipun tidak kuliah ditempat yang sama tapi masih menjalin komunikasi. Aku berencana ingin melamarnya minggu depan bersama keluargaku.

Hari pun beranjak senja. Akupun sampai didepan rumah Rana. Rana berasal dari keluarga yang lebih dari berkecukupan. Ayahnya adalah pengusaha besar, sedangkan Ibunya adalah pemilik Restoran ternama di Kota. Aku merasa agak minder karena dekat dengannya. Orang tua Rana juga kurang suka kepadaku, tapi aku tetap kuat karena Rana juga pernah berkata, “Kekasihku, jika aku tidak bisa menjadi kekasihmu didunia, maka aku akan menjadi kekasihmu diakhirat”.

“Siapa, Ran?”, kata Ibunya Rana. “Mas Harun, bu”, jawab Rana.

“Mau apa dia?”, jawab Ibunya Rana. “Ini ada bingkisan dari Ibunya Harun”, jawab Rana.

“Boleh aku bertemu orang tuamu?”, tanyaku pada Rana. “Iya bolehlah, sebentar aku panggil Ibu dulu”, jawab Rana padaku.

“Ada apa, Run?”, tanya Ibunya Rana padaku. “Saya mau melamar Rana, In Sya Allah minggu depan saya bersama keluarga mau melamar Rana”, jawabku.

“Besok lusa, anak teman Ayah Rana mau kesini buat melamar Rana”, kata Ibunya Rana. “Melamar Rana”, jawabku memastikan. “Iya, sebaiknya kamu mundur saja kalaumau melamar Rana, Run”, jawab Ibunya Rana.

Hatiku terasa terpukul mendengar apa yang dikatakan Ibunya Rana.

“Kalau begitu besok saya bersama keluarga akan kesini buat melamar Rana”, kataku kepada Ibunya Rana. “Kamu kenapa ngeyel, Run. Anak teman Ayahnya Rana itu orang kaya, beda jauh denganmu, jauh berbeda derajatnya denganmu”, jawab Ibunya Rana.

Sejak itu, selama seminggu aku tidak berkomunikasi dengan Rana. “Hai Rana, apa kabar?”, chatku pada Rana. “Baik, Run”, jawab Rana lewat chat.

“Bagaimana lamaran anak teman ayahmu?”, tanyaku padanya. “Aku terima lamarannya. Maaf ya, Mas”, jawab Rana.

“Kenapa kamu terima?”, tanyaku padanya. Rana hanya membaca chatku. “Kenapa dia tidak membalas chatku”, kataku dalam hati.

“Kamu tidak punya harta, kita sebagai manusia harus punya harta untuk hidup. Apalagi jika hidup bersama. Jadi lupakan saja aku, cari perempuan yang lebih baik dariku”, jawab Rana dari chatku satu hari lalu.

Hatiku patah membaca jawaban kejam Rana. Padahal dulu dia pernah berkata kalau aku adalah kekasihnya selamanya.

Aku terbaring sejak membaca jawaban Rana. Seminggu berlalu hingga Rana menjengukku. Kulihat jari tangannya telah berinnai, tanda milik orang lain. Hatiku terasa hancur mengetahui itu.

Sahabatku sedikit menasihatiku, “Sembuhlah awak, berapa lama lagi awak nak terpuruk macam ni”, katanya dengan sedikit logat melayunya. “Iya”, jawabku.

“Bangunlah, awak ini orang berprestasi, berpendidikan. Buktikan kalau awak tak akan mati karenanya. Tunjukan awak akan sukses melebihi suami perempuan itu. Hingga satu hari perempuan itu mengadah keatas padamu dari bawah”, katanya padaku.

Nasihat sahabatku ini sangat menginspirasiku. Hingga akhirnya aku bangun dari keterpurukan. Kuputuskan kalau aku akan berhasil meraih mimpi dan cinta.

Kupergi merantau kekota merintis karir untuk meraih impian. Hingga aku bertemu dengan Pak Dahlan seorang pimpinan perusahaan terbesar di Kota. Dia tidak memiliki anak, istrinya telah meninggal lima tahun yang lalu. Hingga akhirnya aku mengirim tulisan-tulisanku ke Perusahaan Percetakaan terbesar di Kota. Ternyata perusahaan itu milik Pak Dahlan, dia tertarik dengan tulisan-tulisanku, hingga akhirnya ingin bertemu denganku.

“Selamat pagi”, sapa Pak Dahlan di café. “Iya, selamat pagi”, jawabku.

Di café kami bertemu, membicarakan ketertarikan Pak Dahlan dengan tulisan-tulisanku. Sebelum berbincang-bincang, kami memesan makanan terlebih dahulu.

“Tulisan-tulisan anda bagus sekali, seperti benar-benar terjadi”, puji Pak Dahlan padaku. “Terima Kasih, pak”, jawabku.

“Saya punya perusahaan percetakan di Kota, tempat anda mengirim tulisan anda. Saya tidak punya anak, seandainya saya punya anak usaha percetakan akan saya serahkan padanya. Jadi disana tidak ada yang mengurus.” Katanya padaku. “Ooh begitu, pak”, jawabku.

“Setelah melihat tulisan-tulisan anda dan bertemu dengan anda, saya ingin meminta anda mengurus usaha percetakan saya itu”, katanya padaku.

Aku terkejut dengan permintaan Pak Dahlan, dia memintaku mengurus usaha percetakannya. Percetakan miliknya adalah yang terbesar di Kota.

“Saya belum ada pengalaman mengurus perusahaan besar seperti anda, pak”, jawabku. “Tidak apa, kelak anda akan belajar memimpin. Anda bisa gunakan gaya kerja anda sendiri.”,  jawabnya.

Aku diam sejenak, memikirkan tawaran Pak Dahlan.

“Bagaimana? Jika anda bersedia, kita bagi keuntungan 50:50”, katanya padaku. “Baik, pak. Saya bersedia.”, jawabku.

Satu bulan berlalu, perusahan semakin maju. Banyak buku-buku karyaku diterbitkan. Hingga akhirnya aku bisa membeli sebuah rumah mewah di Kota.

Aku berencana merayakan syukuran atas pembelian rumah tersebut, dengan mengadakan pesta. Siapapun boleh datang, terutama para karyawan percetakan. Ada banyak acara dipesta seperti teater dan kesenian lainnya.

“Hai”, sapa seseorang dari belakang. Aku langsung menoleh kebelakang. Ternyata, orang yang menyapaku adalah orang yang dulu mengambil permataku. Hasan, dialah suami dari permataku yang hilang.

“Oh, hai”, jawabku. “Ternyata, acara megah ini acara teman saya. Anda Tuan Harun”, lanjut sapanya.

“Tuan-tuan, perkenalkan ini sahabat saya Tuan Hasan dan istrinya Nyonya Rana”, kataku memperkenalkan mereka kepada para karyawan yang hadir.

Malam telah usai, pesta pun telah berakhir. Hari beranjak senja, Hasan dan Rana datang kerumahku. “Kami ada permintaan tolong, wahai temanku”, kata Hasan. “Saya bisa menolong apa ya kepada anda?”, tanyaku padanya.

Rana hanya tertunduk malu dan diam. “Usaha saya mengalami sedikit kesulitan”, jawab Hasan. “Baik, saya akan bantu”, jawabku.

Hal yang dulu pernah dikatakan sahabatku saat aku terbaring sakit telah menjadi nyata. Rana, permataku yang telah hilang akan mengadah keatas dari bawah.  Aku tak akan pernah lupa apa yang telah dia lakukan padaku, tapi aku telah memaafkannya.

Suatu ketika, di pagiku berangkat kerja bunyi telpon mencegatku. Kudengar kabar duka, Hasan suami Rana mengalami kecelakaan. Aku langsung bergegas menuju Rumah Sakit.

“Mas Harun, Mas Masan ingin bertemu”, kata Rana padaku. “Iya”, jawabku.

“Temanku, sebelumnya saya ingin minta maaf karena dulu saya telah merebut rana darimu”, kata Hasan padaku. “Aku telah memaafkanmu dari dulu, jadi kamu tidak perlu minta maaf” jawabku.

“Ambil lah Rana kembali, jadikan dia istrimu”, katanya padaku. “Maaf, aku tidak bisa”, jawabku sambil berjalan keluar.

Hari itu Hasan menghembuskan nafas terakhirnya, dan kini Rana sendiri. Aku teringat katanya untuk mengambil Rana kembali. Tapi aku tidak bisa karena hatiku telah tertutup untuknya.

Empat bulan berlalu, Rana datang kerumahku. “Mas, aku ingin bicara”, kata Rana padaku. “Iya, silahkan”, jawabku.

“Apa kamu masih ingat kenangan indah kita waktu masih muda dulu”, katanya padaku. “Iya, kenapa?”, tanyaku.

“Aku masih sangat mencintaimu, mas. Maafkan aku, atas yang telah kulakukan dulu”, katanya padaku. “Maaf? Dulu kau berkata jika tidak ada harta kita tidak bisa hidup. Permataku telah hilang, aku telah merelakannya. Begitu juga cintaku, telah patah dan tidak akan tumbuh menyatu lagi, aku telah merelakannya”

Wallahu a’lam bis sawab

Entri yang Diunggulkan

Perjuangan adalah Seni

  Perjuangan adalah Seni Izzul Mutho' Jiwa seniku menginginkan pergi Kala realita tak seindah mimpi Memori mimpi meronta-ronta Ragaku be...