Permata Yang
Hilang
Oleh : Izzul
Mutho’
“Run, Ibu
minta tolong anterin bingkisan ini ke Rana ya. Kebetulan Ibu sama Bapak ingin
pergi sebentar, jadi belum bisa kesana lagi”, kata Ibuku sambil menyerahkan
bingkisan.
“Iya, bu. Rana
pasti senang dapat bingkisan dari calon ibu mertua, hehe”, sahutku.
“Bisa aja
kamu, Run. Kamu pasti yang senang mau ketemu Rana”, jawab Ibuku.
“Iya, hehe”,
jawabku.
Ya, seperti
itulah Aku dan Ibuku suka bercanda kecil. Keluargaku hidup didesa, dengan
kehidupan yang sederhana dan berkecukupan. Namun, bukan berarti tidak bahagia.
Rana adalah teman SMA-ku dulu, meskipun tidak kuliah ditempat yang sama tapi
masih menjalin komunikasi. Aku berencana ingin melamarnya minggu depan bersama
keluargaku.
Hari pun
beranjak senja. Akupun sampai didepan rumah Rana. Rana berasal dari keluarga
yang lebih dari berkecukupan. Ayahnya adalah pengusaha besar, sedangkan Ibunya
adalah pemilik Restoran ternama di Kota. Aku merasa agak minder karena dekat
dengannya. Orang tua Rana juga kurang suka kepadaku, tapi aku tetap kuat karena
Rana juga pernah berkata, “Kekasihku, jika aku tidak bisa menjadi kekasihmu
didunia, maka aku akan menjadi kekasihmu diakhirat”.
“Siapa, Ran?”,
kata Ibunya Rana. “Mas Harun, bu”, jawab Rana.
“Mau apa
dia?”, jawab Ibunya Rana. “Ini ada bingkisan dari Ibunya Harun”, jawab Rana.
“Boleh aku
bertemu orang tuamu?”, tanyaku pada Rana. “Iya bolehlah, sebentar aku panggil
Ibu dulu”, jawab Rana padaku.
“Ada apa, Run?”,
tanya Ibunya Rana padaku. “Saya mau melamar Rana, In Sya Allah minggu depan
saya bersama keluarga mau melamar Rana”, jawabku.
“Besok lusa,
anak teman Ayah Rana mau kesini buat melamar Rana”, kata Ibunya Rana. “Melamar
Rana”, jawabku memastikan. “Iya, sebaiknya kamu mundur saja kalaumau melamar Rana,
Run”, jawab Ibunya Rana.
Hatiku terasa
terpukul mendengar apa yang dikatakan Ibunya Rana.
“Kalau begitu
besok saya bersama keluarga akan kesini buat melamar Rana”, kataku kepada
Ibunya Rana. “Kamu kenapa ngeyel, Run. Anak teman Ayahnya Rana itu orang kaya,
beda jauh denganmu, jauh berbeda derajatnya denganmu”, jawab Ibunya Rana.
Sejak itu,
selama seminggu aku tidak berkomunikasi dengan Rana. “Hai Rana, apa kabar?”,
chatku pada Rana. “Baik, Run”, jawab Rana lewat chat.
“Bagaimana
lamaran anak teman ayahmu?”, tanyaku padanya. “Aku terima lamarannya. Maaf ya,
Mas”, jawab Rana.
“Kenapa kamu
terima?”, tanyaku padanya. Rana hanya membaca chatku. “Kenapa dia tidak
membalas chatku”, kataku dalam hati.
“Kamu tidak
punya harta, kita sebagai manusia harus punya harta untuk hidup. Apalagi jika hidup
bersama. Jadi lupakan saja aku, cari perempuan yang lebih baik dariku”, jawab
Rana dari chatku satu hari lalu.
Hatiku patah
membaca jawaban kejam Rana. Padahal dulu dia pernah berkata kalau aku adalah
kekasihnya selamanya.
Aku terbaring
sejak membaca jawaban Rana. Seminggu berlalu hingga Rana menjengukku. Kulihat
jari tangannya telah berinnai, tanda milik orang lain. Hatiku terasa hancur
mengetahui itu.
Sahabatku
sedikit menasihatiku, “Sembuhlah awak, berapa lama lagi awak nak terpuruk macam
ni”, katanya dengan sedikit logat melayunya. “Iya”, jawabku.
“Bangunlah,
awak ini orang berprestasi, berpendidikan. Buktikan kalau awak tak akan mati
karenanya. Tunjukan awak akan sukses melebihi suami perempuan itu. Hingga satu
hari perempuan itu mengadah keatas padamu dari bawah”, katanya padaku.
Nasihat
sahabatku ini sangat menginspirasiku. Hingga akhirnya aku bangun dari
keterpurukan. Kuputuskan kalau aku akan berhasil meraih mimpi dan cinta.
Kupergi
merantau kekota merintis karir untuk meraih impian. Hingga aku bertemu dengan
Pak Dahlan seorang pimpinan perusahaan terbesar di Kota. Dia tidak memiliki
anak, istrinya telah meninggal lima tahun yang lalu. Hingga akhirnya aku
mengirim tulisan-tulisanku ke Perusahaan Percetakaan terbesar di Kota. Ternyata
perusahaan itu milik Pak Dahlan, dia tertarik dengan tulisan-tulisanku, hingga
akhirnya ingin bertemu denganku.
“Selamat
pagi”, sapa Pak Dahlan di café. “Iya, selamat pagi”, jawabku.
Di café kami
bertemu, membicarakan ketertarikan Pak Dahlan dengan tulisan-tulisanku. Sebelum
berbincang-bincang, kami memesan makanan terlebih dahulu.
“Tulisan-tulisan
anda bagus sekali, seperti benar-benar terjadi”, puji Pak Dahlan padaku.
“Terima Kasih, pak”, jawabku.
“Saya punya
perusahaan percetakan di Kota, tempat anda mengirim tulisan anda. Saya tidak
punya anak, seandainya saya punya anak usaha percetakan akan saya serahkan
padanya. Jadi disana tidak ada yang mengurus.” Katanya padaku. “Ooh begitu,
pak”, jawabku.
“Setelah
melihat tulisan-tulisan anda dan bertemu dengan anda, saya ingin meminta anda
mengurus usaha percetakan saya itu”, katanya padaku.
Aku terkejut
dengan permintaan Pak Dahlan, dia memintaku mengurus usaha percetakannya.
Percetakan miliknya adalah yang terbesar di Kota.
“Saya belum
ada pengalaman mengurus perusahaan besar seperti anda, pak”, jawabku. “Tidak
apa, kelak anda akan belajar memimpin. Anda bisa gunakan gaya kerja anda
sendiri.”, jawabnya.
Aku diam
sejenak, memikirkan tawaran Pak Dahlan.
“Bagaimana?
Jika anda bersedia, kita bagi keuntungan 50:50”, katanya padaku. “Baik, pak.
Saya bersedia.”, jawabku.
Satu bulan
berlalu, perusahan semakin maju. Banyak buku-buku karyaku diterbitkan. Hingga
akhirnya aku bisa membeli sebuah rumah mewah di Kota.
Aku berencana
merayakan syukuran atas pembelian rumah tersebut, dengan mengadakan pesta.
Siapapun boleh datang, terutama para karyawan percetakan. Ada banyak acara
dipesta seperti teater dan kesenian lainnya.
“Hai”, sapa
seseorang dari belakang. Aku langsung menoleh kebelakang. Ternyata, orang yang
menyapaku adalah orang yang dulu mengambil permataku. Hasan, dialah suami dari
permataku yang hilang.
“Oh, hai”,
jawabku. “Ternyata, acara megah ini acara teman saya. Anda Tuan Harun”, lanjut
sapanya.
“Tuan-tuan,
perkenalkan ini sahabat saya Tuan Hasan dan istrinya Nyonya Rana”, kataku
memperkenalkan mereka kepada para karyawan yang hadir.
Malam telah
usai, pesta pun telah berakhir. Hari beranjak senja, Hasan dan Rana datang
kerumahku. “Kami ada permintaan tolong, wahai temanku”, kata Hasan. “Saya bisa
menolong apa ya kepada anda?”, tanyaku padanya.
Rana hanya
tertunduk malu dan diam. “Usaha saya mengalami sedikit kesulitan”, jawab Hasan.
“Baik, saya akan bantu”, jawabku.
Hal yang dulu
pernah dikatakan sahabatku saat aku terbaring sakit telah menjadi nyata. Rana,
permataku yang telah hilang akan mengadah keatas dari bawah. Aku tak akan pernah lupa apa yang telah dia
lakukan padaku, tapi aku telah memaafkannya.
Suatu ketika,
di pagiku berangkat kerja bunyi telpon mencegatku. Kudengar kabar duka, Hasan
suami Rana mengalami kecelakaan. Aku langsung bergegas menuju Rumah Sakit.
“Mas Harun,
Mas Masan ingin bertemu”, kata Rana padaku. “Iya”, jawabku.
“Temanku,
sebelumnya saya ingin minta maaf karena dulu saya telah merebut rana darimu”,
kata Hasan padaku. “Aku telah memaafkanmu dari dulu, jadi kamu tidak perlu
minta maaf” jawabku.
“Ambil lah
Rana kembali, jadikan dia istrimu”, katanya padaku. “Maaf, aku tidak bisa”,
jawabku sambil berjalan keluar.
Hari itu Hasan
menghembuskan nafas terakhirnya, dan kini Rana sendiri. Aku teringat katanya
untuk mengambil Rana kembali. Tapi aku tidak bisa karena hatiku telah tertutup
untuknya.
Empat bulan
berlalu, Rana datang kerumahku. “Mas, aku ingin bicara”, kata Rana padaku.
“Iya, silahkan”, jawabku.
“Apa kamu
masih ingat kenangan indah kita waktu masih muda dulu”, katanya padaku. “Iya,
kenapa?”, tanyaku.
“Aku masih
sangat mencintaimu, mas. Maafkan aku, atas yang telah kulakukan dulu”, katanya
padaku. “Maaf? Dulu kau berkata jika tidak ada harta kita tidak bisa hidup.
Permataku telah hilang, aku telah merelakannya. Begitu juga cintaku, telah
patah dan tidak akan tumbuh menyatu lagi, aku telah merelakannya”
Wallahu a’lam bis sawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar