Rabu, 06 April 2022

Mengejar Takdir

 

Mengejar Takdir

Oleh : Izzul Mutho’

Bumi terus berputar pada porosnya. Detik demi detik menjadi menit. Menit demi menit menjadi jam. Jam demi jam menjadi hari. Hari menjadi Minggu. Minggu menjadi bulan. Ternyata sudah enam bulan Dhiya' lulus S1 di Universitas Harapan Kencana Semarang kemarin. Namun itu bukan akhir dari impiannya.

 

Ia belum juga mendapatkan pekerjaan tetap. Setelah melihat-lihat lowongan di berbagai media. Ia hanya mendapatkan 2 dari lowongan yang sesuai jurusannya. Ia coba keduanya. Hari demi hari berlalu. Sekian lama menunggu ia tidak kunjung mendapat panggilan kedua lowongan guru tersebut.

 

Bunyi rintik hujan di genteng bersahutan dengan bunyi Guntur yang menyambar-nyambar. Daun-daun bergesekan tertiup angin. Rerumputan meringkuk dalam basah. Air berlarian masuk selokan bersama daun-daun kering, ranting-ranting, dan sampah. Dua orang tuanya duduk membisu di beranda rumah mereka. Rumah tembok yang sederhana dan tua. Dhiya' masih belum kunjung mendapat pekerjaan tetap. Ia masih freelance sebagai guru les privat.

 

Satu masalah belum usai. Timbul masalah baru dalam dirinya. Ia melibatkan diri dalam percintaan. Ia sangat ingin bisa menikah setelah selesai pendidikan S1 nya. Tapi ia belum mendapat pekerjaan tetap padahal setengah tahun berlalu ia wisuda. Ia berpikir bagaimana ia menikah, sedangkan ia masih belum mendapatkan pekerjaan.

 

Esok hari Dhiya' pergi keluar naik motornya. Dia rindu teman-teman masa pesantrennya dulu. Begitu sampai di depan toko buku At-Thohiriyyah, Dhiya' berhenti. Seorang laki-laki berpeci keluar melihat. Begitu Dhiya' turun dari motornya, laki-laki berpeci itu menghampiri.

 

“Dhiya’!”

 

“Usman!”

 

Keduanya bersalaman.

 

“Kabarnya sehat kan?” Tanya Usman sambil melepas salaman.

 

“Alhamdulillah sehat, Us.”

 

“Kalau kuliahmu gimana, ya’?”

 

“Alhamdulillah sudah wisuda enam bulan lalu.”

 

“Yuk, masuk dulu. Kita ngobrol sambil ngopi di dalam.”

 

Dhiya’ lalu mengambil tasnya dan masuk bersama Usman ke toko buku.

 

“Sedang sepi ya, Us?”

 

“Tadi ramai. Ya kadang ada sepinya juga. Malah bisa istirahat dan baca Al-Quran.” Jawab Usman santai. Dhiya’ selalu kagum dengan dan cara pandang Usman yang selalu positif. Kalau tokonya ramai dia senang dan bersyukur, dia akan berkata, “Alhamdulillah ramai Dhiya', bisa untuk tambah-tambah ibadah.” Kalau sedang sepi ya seperti yang baru saja ia dengar, “Malah bisa istirahat dan baca Al-Quran.”

 

Keduanya duduk di kursi dekat kasir. Usman menawarkan kepada Dhiya' untuk makan dan minum. Dhiya' mengatakan kalau dirinya masih kenyang. Dhiya' lalu bercerita tentang masalahnya kepada Usman. Dia bercerita sedetail-detailnya mengenai masalahnya. Usman adalah pendengar yang baik. Setelah lama bercerita Usman bertanya,

 

“Sorry Dhiya’, boleh aku tanya?”

 

“O boleh.”

 

“Sekarang tujuanmu setelah lulus apa?”

 

“Entah kenapa di usiaku yang masih muda aku justru ingin menikah, tapi aku juga belum memiliki pekerjaan tetap.”

 

“Kalau pendapatku, kamu tentukan dulu yang kamu prioritaskan apa.”

 

“Jadi aku harus mendahulukan yang prioritas ya, Us?”

 

“Iya, kamu kejar dulu impianmu. Untuk masalah jodoh Insyaallah pasti ada.”

 

Mendung menggantung. Langit kelam. Gerimis perlahan turun. Titik-titik air membasahi tanah, aspal, juga rerumputan. Dia menatap keluar. Seorang berjas hujan tiba di depan rumah pembawa paket.

 

“Dengan Pak Dhiya’?”

 

“Iya saya sendiri.”

 

“Ini ada surat dari SMP 3 Harapan Semarang untuk Pak Dhiya’.”

 

“Iya, terima kasih.”

 

Dhiya' kembali masuk ke dalam rumah. Ia segera membuka amplop surat dan membaca suratnya. Setelah membacanya, Ia senang sekali karena akhirnya ia diterima kerja menjadi guru PAI di SMP 3 Harapan Semarang. Sekolah yang terkenal di Semarang.

 

Sejak hari itu Dhiya' mengajar siswa-siswa yang sebagian besar bukan santri. Mereka masih belum tahu banyak mengenai ilmu agama. Ia merasa nyaman bisa mengajar di sana. Entah kenapa? Apa karena dekat dengan siswa-siswa Yang Semangat belajarnya tinggi dalam meraih mimpinya.

 

Satu tahun berlalu ia mengajar di sana. Siswa-siswa di sana senang dan antusias ketika Dhiya' mengajar. Metode yang Iya pakai sedikit berbeda dari guru-guru lainnya. Anak-anak didiknya juga baik dan penurut, meskipun ada beberapa yang bandel. Tapi ia tidak pernah putus semangat dalam mengajar.

 

Malam itu setelah memeriksa tugas-tugas anak-anak didiknya Dhiya' membuka komputer. Ia hendak berselancar di dunia maya internet. Ia ingin melihat apakah ada email yang masuk. Apakah ada berita yang menarik. Lima email dari teman-teman kampus. Semuanya menanyakan kabarnya.

 

Ia buka alamat email yang lain. Ada dua email. Yang satu dari sebuah komunitas baca. Dan satunya dari murid kelasnya dulu, Rani. Yang sekarang sudah lulus SMA, dan duduk di bangku kuliah semester tiga. Rani menanyakan kabarnya.

 

Dhiya' sedikit bernostalgia. Ia Pertama kali mengajarnya masih di bangku kuliah semester akhir. Usia keduanya tidak terpaut jauh. Bagaikan kakak yang mengajari belajar adiknya.

 

Sewaktu masih mengajarnya Iya sangat akrab dengan murid lesnya itu. Sehingga ia memberanikan diri meminta nomor WA-nya. Dan Rani langsung membalas malam itu juga.

 

Keduanya sering chat-chatan. Berbagi pengalaman. Juga sering curhat masalah hidup.

 

Beberapa hari kemudian tidak. Rani menanyakan.

 

“Kenapa Kakak bisa leluasa chat saya?”

 

“Lah emang ada apa ya, Rani?”

 

“Lho emangnya nggak ada yang melarang?”

 

“Nggak ada”

 

“Kakak belum menikah?”

 

“Belum”

 

“Oalah, kirain sudah Kak.”

 

Lima bulan berlalu, keduanya semakin Intens berkomunikasi. Dhiya’ mencoba menata hatinya, untuk menyatakan perasaannya. Ia memberanikan diri mengajak untuk bertemu.

 

Hari berikutnya. Keduanya bertemu di cafe daerah Ngaliyan. Dhiya’ menawari Rani makan dan minum. Juga ngobrol-ngobrol mengenai dirinya. Dhiya’ memberanikan diri bertanya.

 

“Menurutmu, aku sudah layak menikah belum?”

 

“Menurut saya usia 23 seperti Kakak sudah layak kok.”

 

“Selanjutnya, mengenai calon pilihanku.”

 

“Emangnya apa saya kenal calonnya, kak?”

 

“O kenal. Kamu kenal banget sama calon Pilihanku.”

 

“O siapa calonnya, kak?”

 

“Calonnya kamu, Rani.”

 

Rani terkaget mendengar apa yang dikatakan Dhiya’. Rani balik bertanya.

 

“Kakak serius cinta sama saya?”

 

“Iya, aku serius. Apa Rani gak ada rasa cinta sama aku?”

 

“Tidak kok Kak. Sebenarnya saya juga cinta sama kakak.”

 

“Jadi apa kamu mau menikah denganku?”

 

“Tapi saya masih kuliah. Saya tidak tahu apakah orang tua saya mengizinkan saya untuk menikah.”

 

“Kalau begitu. Biar besok aku ke rumah Rani buat bilang kepada orang tua Rani ya.”

 

“Iya, kak.”

 

Wallahu a’lam bishawab

 

#dimuat di buku Story About Hope

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Perjuangan adalah Seni

  Perjuangan adalah Seni Izzul Mutho' Jiwa seniku menginginkan pergi Kala realita tak seindah mimpi Memori mimpi meronta-ronta Ragaku be...