Mengejar
Takdir
Oleh : Izzul
Mutho’
Bumi terus
berputar pada porosnya. Detik demi detik menjadi menit. Menit demi menit
menjadi jam. Jam demi jam menjadi hari. Hari menjadi Minggu. Minggu menjadi
bulan. Ternyata sudah enam bulan Dhiya' lulus S1 di Universitas Harapan Kencana
Semarang kemarin. Namun itu bukan akhir dari impiannya.
Ia belum juga
mendapatkan pekerjaan tetap. Setelah melihat-lihat lowongan di berbagai media.
Ia hanya mendapatkan 2 dari lowongan yang sesuai jurusannya. Ia coba keduanya.
Hari demi hari berlalu. Sekian lama menunggu ia tidak kunjung mendapat
panggilan kedua lowongan guru tersebut.
Bunyi rintik
hujan di genteng bersahutan dengan bunyi Guntur yang menyambar-nyambar.
Daun-daun bergesekan tertiup angin. Rerumputan meringkuk dalam basah. Air
berlarian masuk selokan bersama daun-daun kering, ranting-ranting, dan sampah.
Dua orang tuanya duduk membisu di beranda rumah mereka. Rumah tembok yang
sederhana dan tua. Dhiya' masih belum kunjung mendapat pekerjaan tetap. Ia
masih freelance sebagai guru les privat.
Satu masalah
belum usai. Timbul masalah baru dalam dirinya. Ia melibatkan diri dalam
percintaan. Ia sangat ingin bisa menikah setelah selesai pendidikan S1 nya.
Tapi ia belum mendapat pekerjaan tetap padahal setengah tahun berlalu ia
wisuda. Ia berpikir bagaimana ia menikah, sedangkan ia masih belum mendapatkan
pekerjaan.
Esok hari
Dhiya' pergi keluar naik motornya. Dia rindu teman-teman masa pesantrennya
dulu. Begitu sampai di depan toko buku At-Thohiriyyah, Dhiya' berhenti. Seorang
laki-laki berpeci keluar melihat. Begitu Dhiya' turun dari motornya, laki-laki
berpeci itu menghampiri.
“Dhiya’!”
“Usman!”
Keduanya
bersalaman.
“Kabarnya
sehat kan?” Tanya Usman sambil melepas salaman.
“Alhamdulillah
sehat, Us.”
“Kalau
kuliahmu gimana, ya’?”
“Alhamdulillah
sudah wisuda enam bulan lalu.”
“Yuk, masuk
dulu. Kita ngobrol sambil ngopi di dalam.”
Dhiya’ lalu
mengambil tasnya dan masuk bersama Usman ke toko buku.
“Sedang sepi
ya, Us?”
“Tadi ramai.
Ya kadang ada sepinya juga. Malah bisa istirahat dan baca Al-Quran.” Jawab
Usman santai. Dhiya’ selalu kagum dengan dan cara pandang Usman yang selalu
positif. Kalau tokonya ramai dia senang dan bersyukur, dia akan berkata, “Alhamdulillah
ramai Dhiya', bisa untuk tambah-tambah ibadah.” Kalau sedang sepi ya seperti
yang baru saja ia dengar, “Malah bisa istirahat dan baca Al-Quran.”
Keduanya duduk
di kursi dekat kasir. Usman menawarkan kepada Dhiya' untuk makan dan minum.
Dhiya' mengatakan kalau dirinya masih kenyang. Dhiya' lalu bercerita tentang
masalahnya kepada Usman. Dia bercerita sedetail-detailnya mengenai masalahnya.
Usman adalah pendengar yang baik. Setelah lama bercerita Usman bertanya,
“Sorry Dhiya’,
boleh aku tanya?”
“O boleh.”
“Sekarang
tujuanmu setelah lulus apa?”
“Entah kenapa
di usiaku yang masih muda aku justru ingin menikah, tapi aku juga belum
memiliki pekerjaan tetap.”
“Kalau
pendapatku, kamu tentukan dulu yang kamu prioritaskan apa.”
“Jadi aku
harus mendahulukan yang prioritas ya, Us?”
“Iya, kamu
kejar dulu impianmu. Untuk masalah jodoh Insyaallah pasti ada.”
Mendung
menggantung. Langit kelam. Gerimis perlahan turun. Titik-titik air membasahi
tanah, aspal, juga rerumputan. Dia menatap keluar. Seorang berjas hujan tiba di
depan rumah pembawa paket.
“Dengan Pak
Dhiya’?”
“Iya saya
sendiri.”
“Ini ada surat
dari SMP 3 Harapan Semarang untuk Pak Dhiya’.”
“Iya, terima
kasih.”
Dhiya' kembali
masuk ke dalam rumah. Ia segera membuka amplop surat dan membaca suratnya.
Setelah membacanya, Ia senang sekali karena akhirnya ia diterima kerja menjadi
guru PAI di SMP 3 Harapan Semarang. Sekolah yang terkenal di Semarang.
Sejak hari itu
Dhiya' mengajar siswa-siswa yang sebagian besar bukan santri. Mereka masih
belum tahu banyak mengenai ilmu agama. Ia merasa nyaman bisa mengajar di sana.
Entah kenapa? Apa karena dekat dengan siswa-siswa Yang Semangat belajarnya
tinggi dalam meraih mimpinya.
Satu tahun
berlalu ia mengajar di sana. Siswa-siswa di sana senang dan antusias ketika
Dhiya' mengajar. Metode yang Iya pakai sedikit berbeda dari guru-guru lainnya.
Anak-anak didiknya juga baik dan penurut, meskipun ada beberapa yang bandel.
Tapi ia tidak pernah putus semangat dalam mengajar.
Malam itu
setelah memeriksa tugas-tugas anak-anak didiknya Dhiya' membuka komputer. Ia
hendak berselancar di dunia maya internet. Ia ingin melihat apakah ada email
yang masuk. Apakah ada berita yang menarik. Lima email dari teman-teman kampus.
Semuanya menanyakan kabarnya.
Ia buka alamat
email yang lain. Ada dua email. Yang satu dari sebuah komunitas baca. Dan
satunya dari murid kelasnya dulu, Rani. Yang sekarang sudah lulus SMA, dan
duduk di bangku kuliah semester tiga. Rani menanyakan kabarnya.
Dhiya' sedikit
bernostalgia. Ia Pertama kali mengajarnya masih di bangku kuliah semester
akhir. Usia keduanya tidak terpaut jauh. Bagaikan kakak yang mengajari belajar
adiknya.
Sewaktu masih
mengajarnya Iya sangat akrab dengan murid lesnya itu. Sehingga ia memberanikan
diri meminta nomor WA-nya. Dan Rani langsung membalas malam itu juga.
Keduanya
sering chat-chatan. Berbagi pengalaman. Juga sering curhat masalah hidup.
Beberapa hari
kemudian tidak. Rani menanyakan.
“Kenapa Kakak
bisa leluasa chat saya?”
“Lah emang ada
apa ya, Rani?”
“Lho emangnya
nggak ada yang melarang?”
“Nggak ada”
“Kakak belum
menikah?”
“Belum”
“Oalah, kirain
sudah Kak.”
Lima bulan
berlalu, keduanya semakin Intens berkomunikasi. Dhiya’ mencoba menata hatinya,
untuk menyatakan perasaannya. Ia memberanikan diri mengajak untuk bertemu.
Hari
berikutnya. Keduanya bertemu di cafe daerah Ngaliyan. Dhiya’ menawari Rani
makan dan minum. Juga ngobrol-ngobrol mengenai dirinya. Dhiya’ memberanikan
diri bertanya.
“Menurutmu,
aku sudah layak menikah belum?”
“Menurut saya
usia 23 seperti Kakak sudah layak kok.”
“Selanjutnya,
mengenai calon pilihanku.”
“Emangnya apa
saya kenal calonnya, kak?”
“O kenal. Kamu
kenal banget sama calon Pilihanku.”
“O siapa
calonnya, kak?”
“Calonnya
kamu, Rani.”
Rani terkaget
mendengar apa yang dikatakan Dhiya’. Rani balik bertanya.
“Kakak serius
cinta sama saya?”
“Iya, aku
serius. Apa Rani gak ada rasa cinta sama aku?”
“Tidak kok
Kak. Sebenarnya saya juga cinta sama kakak.”
“Jadi apa kamu
mau menikah denganku?”
“Tapi saya
masih kuliah. Saya tidak tahu apakah orang tua saya mengizinkan saya untuk
menikah.”
“Kalau begitu.
Biar besok aku ke rumah Rani buat bilang kepada orang tua Rani ya.”
“Iya, kak.”
Wallahu a’lam
bishawab
#dimuat di buku Story About Hope
Tidak ada komentar:
Posting Komentar