Kerinduan
Tak Berobat
Oleh
: Izzul Mutho’
Dibawah sinar lampu
yang temaram. Ku coba melihat gelapnya langit malam, hanya terlihat rembulan
yang hanya memantulkan sebagian cahaya matahari. Bintang pun tak ada yang
terlihat, mereka bersembunyi dibalik awan. Berhembusnya angin malam yang
sepoi-sepoi, terasa seperti menghembuskan udara pada wajahku. Awan bergerak
dengan perlahan, bagaikan bejalan menapak bumi, membagikan seni tersendiri di
kegelapan malam. Perlahan waktu berjalan, bintang pun mulai nampak dari awan
yang bergerak.
Terlihat dari depan
rumah. Hal yang bisa aku lakukan saat itu adalah merasa panik. Aku ingin
berbuat sesuatu menolongmu, tetapi tangan ini terasa berat seperti tertindih
batu. Aku meneriakkan sesuatu, tetapi lidah ini terasa kelu. Aku merasa harus
melakukan sesuatu. Mungkin karena hanya ada aku di situ. Tetapi aku merasa
tidak bisa berbuat apa-apa. Kau terlihat didepan rumahmu. Kau menyapu halaman
rumahmu, membersihkannya dari sampah, lalu membakar sampahnya. Tanpa terduga
kau berbuat bodoh. Kau sirami tubuhmu dengan minyak tanah, lalu kau sentuh api
tersebut. Ingin ku berteriak “KAKEK JANGAN”. Tetapi mulutku serasa rapat
terkunci. Tak terbuka sama sekali. Kenapa perbuatanmu bodoh sekali? Apakah
karena kau yang sudah lanjut usia. Kau bertingkah seperti anak bayi baru lahir,
yang tak mengerti apa-apa.
“Gubrakkk!! Adduuhh!!
Ku terjatuh dari tempat tidurku. Ternyata hanyalah sebuah mimpi. Namun terasa
seperti nyata. Aku sangat mengkhawatirkanmu, kek. Astaghfirullahal ‘adzim, aku
telah lupa. Kau sudah pergi dari dunia ini setahun lalu. Apakah arti sebenarnya
dari mimpiku itu. Apakah mungkin isyarat bahwa kau mendapat siksa disana? Kau
terlumur minyak dan terbakar dalam kobaran api. Karena usiamu lebih lama
dibandingkan orang pada umumnya. Hingga akalmu seperti kembali menjadi bayi,
engkau tidak menjalankan perintah agamamu dengan benar.
Apakah itu peringatan
karena selama ini aku lupa tidak mengirimkan do’a pada kakek sehingga kakek
disiksa di sana? Atau mungkin peringatan bagiku bahwa ternyata aku ini terlalu
buruk dan perlu harus memperbaiki diri. Aku tidak boleh berfikir hal-hal
semacam itu, tidak boleh menafsiri mimpi seperti sesuka hatiku. Ku coba
mendamaikan perasaanku. Tidak lah, tidak akan terjadi apa-apa pada kakek. Kakek
kan orang baik. Mungkin aku hanya rindu padanya. Hingga ia hadir dalam mimpiku.
Kulihat jam yang
menempel di dinding, terlihat telah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Sebentar
lagi subuh tiba, ku bangun dari tempat tidurku. Bergegas melangkahkan kakiku
menuju kamar mandi untuk berwudlu. Masih ada waktu untuk shalat tahajud. “Kalau
ingin ketenangan hati, bermunajahlah pada Allah, dengan shalat di sepertiga
malam kamu akan lebih mampu merasakan petunjuk Allah”, nasihat ayahku yang
selalu terngiang di telingaku. Kulaksanakan sholat tahajud dan kupanjatkan do’a
pada Allah, supaya kakek ditempat
bersama orang-orang yang beriman di sana.
Kakek selalu
menyayangiku, merawatku ketika orang tuaku sibuk dengan pekerjaan mereka.
Menidurkanku, menyuapiku, dan aku juga sangat menyayanginya. Aku mencoba
mencari obat untuk kerinduanku pada kakek. Kutumpahkan segala kerinduanku
dengan air mata yang membasahi pipku.
Pagi itu dirumahku
terasa ada udara kebahagiaan. Aku, ayah, ibu, saudaraku, semua ada dirumah.
Kuhampiri ibu yang sedang memasak di dapur. “Bu, masak apa ini? Baunya enak
sekali”, kataku. “Pokoknya enak”, jawab ibuku. Lalu kehampiri ayah yang sedang
membaca kitab berbahasa arab yang tidak terlalu kumengerti diruang keluarga.
“Yah, tadi malam aku mimpi bertemu kakek. Kangen sama kakek, yah. Kita ziarah,
yuk!”, mintaku. “Iya, hari ini ayah juga libur. Tapi nanti sore ya. Siang ini
ayah dan ibu ada acara reuni dirumah teman”, jawab ayah. “Kamu dirumah saja ya,
nemenin adik kamu dan jaga rumah, ris. Faris kan sudah besar, juga sudah punya
adik kan”, sahut ibuku. Aku tersenyum dengan agak kecewa.
Yah, tetap terasa sepi
dirumah jika hanya berdua, aku dan adikku. Meskipun libur tetap tidak dirumah.
Agar tidak terasa jenuh, aku menonton TV bersama adikku.
Kami berdua berebut
memilih channel TV. Akhirnya aku mengalah, membiarkan adikku menonton channel
kesukaannya. Hari pun mulai beranjak sore, hingga kemudian adikku tertidur,
sehingga aku bisa memilih channel sesuka hati. Akhirnya aku memutuskan menonton
berita saja, biar tidak ketinggalan informasi.
SATPOL PP telah
melakukan pembongkaran tempat pemakaman umum di daerah Kota Semarang Jawa
Tengah, karena akan digunakan untuk perluasan jalan. Seorang reporter
melaporkan dengan sangat jelas dan tegas. Aku tercengang melihat berita
tersebut. Kenapa dilakukan pembongkaran secara tiba-tiba? Itukan daerah tempat
pemakaman kakek. Kenapa tidak ada konfirmasi pemberitahuan pada pihak keluarga
pemilik makam-makam itu? Itukan masih dalam hak sewa kami. Kebijakan apa ini?
Kurasa ini ketidakpecusan birokrasi pemerintahan sekarang. Hilang sudah
harapanku untuk menziarahi makam kakek. Kalau bukan ke tempat itu, kemana lagi
aku bisa menjenguk kakek. Bagaiman aku melepaskan kerinduanku pada kakek?.
Geramku pada pemerintah.
Kendal,
19/01/2021
#dimuat di PMII Rayon Syariah, 21/01/2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar